Thursday, May 5, 2011

Jumpa Pertama Tajuli



“Eh cakep tuh, sayang udeh ade yang punye ye.” logat betawi milik Tajuli begitu kental walau ia bukan asli betawi.
Tajuli dengan usia menjelang kepala 4 memang sedang mencari kekasih hati untuk dijadikan istri kelak. Bosan rasanya pacaran terus dan gagal terus. Tetapi sejauh ini memang belum beruntung.

“Usaha yang bener dong bang, jangan cuma dilirik doang.” Romlah menimpali temannya sambil menyeruput kopi hitam mak Udin.
Warung mak Udin memang terkenal dengan kopi hitam yang nikmat dan menjadi tempat berkumpulnya pemuda Kampung Keja melepas lelah setelah seharian bekerja.
Sambil tersenyum kecut, Tajuli melengos pergi meninggalkan warung menuju Surau, Musola kecil yang menjadi tempat curhatnya sejak beberapa bulan terakhir ini.
“Ya Tuhan, sampai kapan aku harus sendiri seperti ini.” keluhnya disetiap akhir doa.
Tetapi Tajuli masih berada didalam jalur, tidak seperti teman-teman kampungnya yang setiap akhir pekan mencari mangsa pekerja buruh disebelah gedung bertingkat dekat kampungnya. Ah dunia memang sudah sangat gila, pikir Tajuli setiap dia menolak ajakan mereka.

“Bang uli!” suara nyaring Kiki menghentikan langkah Tajuli yang baru selesai sholat subuh.
“Bang, kemari deh. Kiki punya berita bagus.” senyumnya mengembang serasa baru mendapat uang saku lebih dari Abah.
“Ade ape Ki, Pagi-pagi tumben banget loe nyil.” Tajuli mengajaknya duduk dipinggir sawah dekat surau.
“Ada yang mau kenalan.” Kiki semakin melebarkan senyumnya. Gigi setengah hitamnya karena terlalu banyak makan gula-gula mengintip diantara sela-sela gigi yang sebagian masih teratur letaknya.
“Siape ki? Cakep kaga? Yang bener loe ah kalo ngomong.” Tajuli setengah menanggapi Kiki, anak Abah Anom yang paling kecil yang sering minta duit tambahan darinya setiap akhir pekan.

Minggu pagi kali ini tidak seperti hari minggu biasanya untuk Tajuli. Setelah subuh dia langsung ke Pasar Kaget, membeli sesuatu yang bisa dia bawa sebagai buah tangan untuk Rojanah. Gadis kampung sebelah utara, tidak begitu jauh dari surau di ujung kampung. Kiki telah berhasil membuat Tajuli percaya untuk berkenalan denga Rojanah. Poto hasil curian Kiki dari tangan mungilnya ketika Rojanah menemani emaknya berbelanja.
Tajuli memandangi poto Rojanah tanpa berkedip. Kulit kuning langsat dan mata sipit dengan hidung kecil membuat Rojanah semakin manis dimata Tajuli. Yah, siapa yang tidak akan jatuh hati.

 
Waktu menunjukan pukul 5 sore. Matahari sudah mulai menggeliat untuk segera menutup cahayanya. Tajuli memantapkan langkahnya untuk bertemu pujaan hati. Degup kencang jantungnya begitu terdengar sangat kencang begitu dia melihat Rojanah berdiri didepannya.
“Mari masuk bang.” begitu Rojanah menyapanya. Tajuli hanya menganggukan kepalanya. Nampaknya lidahnya tercekat. Ruang tamu sederhana milik Pak Sulaiman begitu nyaman membuat Tajuli sedikit lebih santai.
“Bapak ada dibelakang, sebentar lagi kesini. Mau minum apa sementara menunggu bapak?” Rojanah menawarkan minuman dengan sopannya.
“Eh, air putih saja.” Jawab Tajuli dengan gugup.
“Oh, sebentar ya.” Rojanah kembali kedalam. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Tajuli. Angin sepoy-sepoy yang masuk ke ruang tamu seakan tidak berpengaruh kali ini. Semua angan-angan serasa menggelayuti pikirannya. Lamunan yang penuh dengan kesenangan. Berandai-andai. Aah..
“Assalamu'alaikum.” Salam Pak Sulaiman membuyarkan lamunannya
“Wa'alaikum salam.” Tajuli segera berdiri menjawab salam dan menjabat tangan seorang bapak tua yang cukup arif kelihatannya.


“Silahkan duduk nak, jauh-jauh masa hanya dikasih air putih de.” Pak Sulaiman menegur Rojanah yang hanya membawa nampan dengan air putih.
“Tidak usah repot-repot Pak, ini sudah cukup.” Tajuli membela Rojanah yang tersenyum malu kembali kedalam dapur.
Setelah cukup berkenalan dengan orangtua Rojanah, Tajuli mendapat ijin untuk keluar bersama Rojanah dengan ditemani Kiki yang dari awal ternyata ada di dapur. Dengan hati riang, dia berjalan diantara Rojanah dan Tajuli.

Jumpa pertama dalam setiap pertemuan selalu memberi kesan tersendiri. Tajuli mempunyai kesan yang dia simpan dalam doa. Semoga pertemuan selanjutnya membawanya kedalam kebahagiaan dan tidak sendiri lagi


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.