Saturday, May 21, 2011

Once Upon a December


The preparation for Jilly's trip was almost done completely. Her feeling was little bit in between. The trip would be the longest, the biggest and probably the toughest one she'd ever had. For some people who didn't know what's really going on with her might think that this trip would be the fantastic one but Jilly still put the positive thinking in her mind. “ Cheer Up Jill, You can do it! No matter what, keep moving!” she talked to herself.
“ Ready sugar baby?” Daniel's soft voice was suddenly echoing in her ears. Kissing her ears, showing the care and love just like couple did. Hmm she really hoped that it was true since the feeling she had was still in between.
“ Sure hun, let's go, the cab is outside already!” Jilly grabbed her bags and looked back to her room. Her lovely room would be empty for good but the memories would still linger for sure.

The trip was quite good. No difficulty at all thou it's new for Jilly especially since Daniel's always by her side. But the weather was quite challenging. The winter was coming soon.
“ Wait till we come to my city, baby. You will not be cold anymore.” Daniel tried to comfort her. Yea his city was little bit to north closer to the beach so that the weather wouldn't be extreme like the others.
Jilly tried to comfort herself with her furred thick jacket. She drowned her small head in it just like the north polar bear. Her mind's still wondering around.

“ Here we are sugar babe, hope you could enjoy yourself here.” Daniel opened the big green dusty door in front of her. The house looked so big but empty. The loneliness of the house could be seen just from the front door but once she came to the kitchen, it's neat and clean. Now she could understand what type of man Daniel was. Unpacking the luggage seemed not as hard as packing. Thanks to her friend who taught her how to do it. Daniel also helped her. The closet was not that big but enough for the clothes she had.

The sun on sunday morning in the late november seemed so lazy glaring. The cold bit her to the bone so easily. Daniel always laughed at her since for him, it's nothing.
“ It's not that cold sweetie, you just don't get use to it.” he hugged and kissed her. The sweet tender kiss changed her pale cheeks into pink. The sweet morning caressed her and she forgot the cold for sure.


“ Baby, are you sure you don't get bored here?” suddenly Daniel asked her.
“ Well, sometimes. But I try to make my self busy here, don't worry.” Jilly tried not to make her fiance worried.
“ I'll take you out after I work if i'm not busy or tired okay.” Daniel wanted to be sure that Jilly would be happy staying outside.
“ Sure, i'll be patient for that.” she teased him.

She was still browsing the net for temporary job and for some info while she's writing. She got stucked. Her mind was thinking about the plan.
“ It's almost the day.” she sighed. But there's no sign at all. Not even a single word. And she didn't dare asking. She's afraid of ruining the moments they had shared together. She should find the best time to bring the topic. She got the idea.

It's almost the last week of December, there should be special moment. But the night she was finally bringing the topic turned so bad.
“ I don't know, I don't think I could do it, I'm sorry.” in a deep sigh, Daniel finally answered the question that Jilly had thought but still she's quite shocked thou she managed to be calm.
“ I don't know what's wrong with you, I have shown my best here. I didn't ask for anything. I guess I should be going.” Jilly left the room and tried to hold her tears from falling.
Her Birthday this time should be the happiest she'd ever had since she was finally with the one she loved but this morning she was just sitting in her closet. Big luggage was ready to be filled with her clothes. She was trying to smile, thinking about meeting her best friend again who's ready to accept her if something turned out bad in her trip. She folded some clothes and put them in the luggage neatly.
“ Sugar babe, you don't have to go. Stay with me.” Daniel's voice stopped her packing. She still couldn't believe what she'd heard.
“ What did you say?”
“ You heard me. Happy Birthday.” Daniel hugged her tightly. Tears fell on her cheek. She couldn't say anything.
“ Help me to get through this. I need you to be here. Wanna go to a movie?” Daniel was so calm and so sweet.
“ We'll celebrate our day tomorrow okay, since all the offices are now closed for holiday.” Daniel made sure for the plan that would be held just one day after Jilly's birthday.

Though there's no present for her birthday but the plan was considered as the sweetest unforgettable present she'd ever had, once upon a December, when he said " I DO."

 




 

Wednesday, May 18, 2011

Emaaak, Ijah Pulaaang!


Sudah hampir 3 tahun Ijah tinggal di Negara Paman Sam tetapi untuk menetap selamanya dan menjadi warga negara asing masih menjadi bahan pemikirannya. Teringat akan makanan di kampungnya yang murah meriah dan tentu saja nikmat, teman-teman backpackernya, barang-barang BM dan masih banyak hal lagi, semakin membuat Ijah ragu untuk memantapkan niatnya menjadi warga negara asing. 

"Huff, masak apa ya hari ini untuk abang Juned." 
Juned, yah begitulah dia memberikan nama julukan untuk suaminya yang blasteran Amerika Belanda yang tidak menyukai makanan pedas ala kampung Ijah. Juned yang begitu mudahnya jatuh hati dengan perempuan kampung cukup menggemparkan orang sekampung Ijah, diikuti dengan dilangsungkannya  pernikahan mereka. Ya, 4tahun yang lalu merupakan hal yang tidak bisa dilupakan oleh siapapun, bukan kali pertama itu saja sebenarnya, hanya saja inilah yg paling membuat orang tua dan teman-temannya kaget bukan kepalang. Ijah dilamar Kumpeni, begitu kata mereka. 

"Repot dah kalau harus ada dua menu begini di rumah." keluhnya. 
Kehidupan di Negara Paman Sam sangat berbeda ia rasakan, khususnya  untuk tahun pertama. Mulai dari makanan, pakaian, budaya, bahasa, tetapi dengan otak yang lumayan, Ijah berhasil melaluinya. Pertemanan situs ataupun tetangga dan teman-teman suaminya membuat Ijah merasa betah. Anggapan miring terhadap dirinya dia tepis jauh-jauh dengan menunjukan siapa dirinya. 

Tetapi entah kenapa, keinginan untuk pulang kampung sangat mendera hatinya saat ini. Semua barang  oleh-oleh sudah ia cicil dibungkus sangat apik untuk orang-orang sekampungnya.

"You will go home town someday but not in the short coming okay." Juned sangat sayang terhadap Ijah, wanita unik yang ia nikahi 4 tahun lalu yang selalu membuat dirinya bahagia.
"I know, I just hope I could go this year, Miss my home town." Ijah menghela napasnya dan kembali ke dapur melanjutkan masakannya. Kali ini menu spesial yang ia masak adalah untuk dirinya, yaitu sambel terasi ikan peda yang membuat Juned langsung ngeloyor keluar dan bermain dengan Udin, kucing kesayangan mereka yang baru saja mereka pelihara belakangan ini.
Ijah cukup beruntung menikah dengan Juned, walau tidak tinggal dirumah bertingkat seperti layaknya orang kaya dikampungnya, ia tidak mendapat kesulitan dari suaminya yang berbeda kultur dan budaya. Sholat lima waktu tidak pernah ia lewatkan begitu juga dengan suaminya. 
_________________________________

Hari ini udara cukup bersahabat untuk Ijah. Musim dingin sudah berlalu, yang artinya pakaian tebal-tebalnya sudah bisa ia singkirkan untuk sementara, sepatu bootnya yang selutut sudah berganti dengan sendal jepit "made in" kampungnya yang selalu ia banggakan didepan Abang Juned. 
Sinar matahari menghangatkan tubuhnya yang mulai tambun karena terlalu banyak makan ikan asin yang sangat mudah ia dapatkan di toko asia, tidak begitu jauh dari rumahnya. 
 "Ahh kapan kurusnya kalau tiap hari makan ikan asin dengan nasi 3piring." keluhnya sambil mengunyah ikan dan sambel terasi yang ia cocol dengan daun singkong. Satu lagi keberuntungan Ijah,  yaitu semua kebutuhan perutnya ternyata banyak tersedia di negara Paman Sam, hanya dengan keahlian masak seadanya bisa membuat ia tidak kehilangan selera makannya seperti di kampungnya. Tetapi seiring dengan waktu dan kemauannya, keahlian memasaknya semakin ia asah dan tidak mengecewakan suaminya seperti awal-awal pernikahannya waktu dulu. Keasinan ataupun hambar sudah tidak terdengar lagi disela-sela makan malam mereka. 
_____________________________

Ijah dan Juned hari ini akan menyempatkan bersilaturahmi ke kota dimana orang tua Juned tinggal. Mereka sangat menyukai Ijah yang ramah dan apa adanya. Keluarga Juned sangat menghormati Ijah yang menjunjung nilai agama, sehingga makanan yang disediakan tetap halal. 
Kegiatan hari ini adalah water sport. Olahraga air yang bagi orang kampung Ijah mungkin hanya mancing dan berenang dilaut dekat pelabuhan dimana ia tinggal. Alat pancingnya pun jauh berbeda, apalagi airnya. Sedih memang meihat kampungnya yang sebenarnya indah tetapi banyak yang tidak bisa menjaganya. 
"Let's prepare our Kayak, hon." Juned memandangi wajah istrinya yang mulai kelihatan ragu untuk mencoba olah raga itu.
"Don't worry, You'll like it." Juned meyakinkan istrinya.
"Yea, Ijah, We'll stay behind you." Ibu mertua nya yang tidak muda lagi menyemangati dirinya.
"Urggh.. yea sure go ahead, I'll watch you guys first." Ijah tersenyum kecut. 
Kamera ditangannya sudah mulai beraksi mengambil gambar-gambar yang cukup menarik untuk diperlihatkan keteman-teman dan saudaranya.
Angin sepoi-sepoi dan udara hangat membuat mereka lupa akan waktu. Setelah akhirnya Ijah memberanikan diri untuk mencoba Kayak beberapa jam. Mereka kembali ke rumah. 
"See, told you it's fun." Juned mengecup pipi Ijah untuk keberaniannya mencoba Kayak. 
"Yea but I almost fell to the water." Ijah tersenyum bangga. 
"Next time We'll try something different." Ibu Juned, Maria, menimpali percakapan mereka.
"What Different???!!!" Ijah mulai mengernyitkan dahinya tanda penasaran dan ketakutannya. 
"Na-ah, We'll tell you after you come back from your home town." Maria membuat Ijah terkejut.
"What Home town? What do you mean?" Ijah semakin bertanya-tanya.
"Surprise!!! We bought round trip ticket for you dear." Maria menyodorkan tiket pesawat untuk Ijah.
"Oh.. Mom! Hon?" Ijah begitu gembira, air mata nya tidak bisa ia tahan. Ia menangis dipelukan Maria dan Juned. 
"Thank you so much. I really don't know what to say." Ijah masih menangis  sambil mencoba tersenyum dan mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga. 
"We want you to be happy." William, Bapak mertua Ijah mengomentari dari dapur. 
"Now let's cook for dinner, I am hungry. Show me your arts in cooking." William tersenyum.
"Sure Dad, I'll cook my best for you." Ijah tersenyum lebar. Bahagia rasanya punya keluarga seperti keluarga Juned, Ia tidak akan mengecawakan mereka. 
______________________________

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. 1 tas punggung, 2 Tas koper rasanya tidak cukup untuk membawa pesanan orang sekampung. Dengan gembira, Ijah mendorong tas kopernya untuk diletakkan dibagasi mobil. 
"Ready Hon." Ijah teriak memanggil suaminya yang masih sibuk dengan Udin, Kucing mereka.
"Be good Udin while Mommy's gone." Ijah mengelus kucing kesayanganya.
"Okay, Let's go." Juned mengunci pagar rumah dan siap-siap mengantar istrinya ke bandara. Tiga bulan waktu yang lumayan lama untuk mereka berpisah sementara. Ijah cukup khawatir meninggalkan suaminya, tetapi karena Juned cukup sibuk dan tidak keberatan, Ijah akhirnya lega meninggalkan negeri Paman Sam untuk sementara waktu.

Perjalanan ke kampungnya cukup memakan waktu lama dipesawat. Untungnya tiket hadiah kejutan adalah tiket kelas 1 sehingga Ijah cukup merasa nyaman. Makanan, hiburan dan teman seperjalanan yang ia kenal lumayan cukup baik sehingga ia tidak bosan. Transitnya pun tidak memakan waktu lama. Tidak terasa beberapa jam lagi, pesawat akan mendarat di negara tempat ia lahir. Pikirannya mulai dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah, lucu, dan juga sedih akan akan kampung halamannya.
"Ahh seandainya kampungku seperti negara Paman Sam." lamunnya, sambil mengisi data barang-barang yang ada di kopernya, Ijah menatap Jendela pesawat. Aku akan merindukanmu tetapi aku akan secepatnya kembali. 
Pesawat sudah mendarat beberapa menit yang lalu, tetapi urusan bagasi lumayan memakan waktu yang lama. Antrian yang cukup panjang membuat Ijah bosan. Tiba-tiba "Hey kamu harusnya ada dijalur 2, harus diperiksa dahulu, lapor." seorang petugas menghampirinya sambil berkata-kata cukup kasar.
"Maksud bapak apa?" Ijah terkejut mendengar ia ditegur seperti itu. 
"Iya untuk TKI/TKW harusnya dijalur 2." Petugas itu menegaskan.
"Maaf Pak, saya bukan TKW, saya dari Amerika." Ijah mulai ketus menjawab petugas bandara.
"Oh, Mana bukti anda." Petugas itu masih belum percaya. Dengan penampilan kusut Ijah karena terlampu letih selama perjalanan menambah kesan penampilan TKW negara nya sendiri yang memang sangat banyak dari kampungnya. Dengan kesal tetapi tetap bersabar, Ijah mengeluarkan identitas dirinya. Setelah cukup bersitegang dengan petugas, akhirnya Ijah melewati antrian panjang bea cukai. Dengan langkah kesal, Ijah keluar dari Bandara dengan troley bandara membawa dua koper besarnya. Petugas bandara dibagian depan rasanya masih akan membuat masalah dengannya. Kedua kalinya ia mengeluarkan identitas dari negara Paman Sam. Tetapi Ijah tetap sabar dan tidak mau ribut didepan umum. 
Ahh beginikah perlakuan terhadap bangsamu sendiri, ingin rasanya ia kembali ke negara Paman Sam. Tetapi mengingat pelukan hangat emaknya, makanan yang serba ada tersedia, berpetualang dipelosok sudut kampungnya, membuat senyumnya mengembang kembali dan berteriak "Emaaakkk, Ijaah pulaaang."






Tuesday, May 10, 2011

The In-laws

On cloudy friday morning didn't stop Lucy preparing the trip with her husband to visit her brother in-laws. Tomorrow would be a graduation day of her hubby's nephew. This is special since the family gathering's not quite often be held in this family.
Lucy and Mark got married six months ago. They were from different background and culture but so far they could manage everything very well. Lucy, the youngest in her family is from Asia. Tho her English's quite fluent, she got culture shock for few months. She's still afraid when she must ask somebody around her. Mark's patient enough tho sometimes he forgot the situation of Lucy here.
They would spend 3 days for this trip. Mark has already told Lucy little about his sister in-law, Christina, Katty and Dave who's gonna graduate and Andy, his brother.
"Hope Christina is in good mood when we get there." Mark said.
"Of course baby, don't worry. They are going to celebrate something big for their son, so i bet they are happy." Lucy's trying to think positive about her in-laws. She knows all marriages must have good and bad times and she always hoped that her marriage would be always in good.

"Hello, Andy. Good to see you again!" Lucy greeted her brother in-law. He has come just few weeks after Lucy arrived in USA.
"Hi Lucy, nice to meet you, here's Christina, my wife." Andy introduced his wife to Lucy.
"Wow, You look so good. You match each other." Christina said.
"Thanks, You look pretty and slim." Lucy said.
"You're even slimmer. Anyway, my family will also come soon, hope you don't mind being asked lots of question." Christina tried to tell little bit about her family.
Aunt Ken, Wina, Jen, and her sister July came along and asked Lucy many things.

The conversation smoothly flow on that afternoon. From A to Z could be answered by Lucy well. They amazed by the language since they had old neighbor from another country with broken English so far. So Lucy got extra point as their in-laws.

But things didn't go smoothly all the time, as in family, there must be arguing for sure. It wouldn't be so wrong. Many things, big or small could be the matters. Just like in a marriage. Lucy understood about that since she also had family and sometimes they argued about anything. However, there's something that her husband really concerned about his family.


To be Continued

Marry's secret





Marry suddenly realized about what happened to her friends lately. They should have told her earlier so that everything could be handled. Now she feels regret. Sitting alone by the window she looked outside with empty feeling.
“Gosh, what should I do now.” She's thinking of going out just for a walk but it won't make her problem solved.
“Ring.. Ring..” suddenly her phone rang. Lazily she walks toward the bed reaching her phone. Urrghh it's Joe again, what does he want from me. Marry turned her cellphone off.
“I don't wanna talk with anyone.” she sighed.
“Marry! Joe is on the phone! Come on down and get it.” Bryan shouted. She couldn't avoid anymore since her brother's already called and she didn't want anyone at home know about her problem.

“Yea. What's up Joe?”
“What's wrong with you girl. You should have told me if something's bad happen to you.” Joe's voice was always sweet to Marry. He's been trying to win Marry's heart since they're in junior high school. But Marry seemed hard to be pleased. She's as stubborn as a mule. Once she made up her mind then no one could change it.
“I can't tell you now but i'm fine tho. Thanks for asking. I just wanna be alone for now. Hope you understand. Talk to you later, okay!” she hung up the phone before Joe could say anything.
Marry went back to her room and turned the TV on. She's trying to switch her mind by watching her fav series or falling asleep.
 
It's 6 o'clock in the morning. Marry didn't wanna get up. She felt sore all over and little bit cold. She told her mom for not going to school today. After everyone left the house, she tried getting her breakfast. Just PBJ as usual.
Facing her laptop, searching something to be read that could kill her boredom. Her blogs seemed got her attention. She made draft of her short story. She got her mood back.

“Marry, I'm home. Are you there?” mom's voice woke her up. She overslept in front of her laptop.
“Yea mom, up here.” she looked at her watch it's already late in the afternoon. She went down to the kitchen and got her food that mom's prepared.
“Hey, how're you feeling sweetie?” mom put her hand over marry's forehead.
“I'm okay mom, no more cold just a bit tired and hungry now. Can I eat.” Marry didn't like her mom treating her like a kid anymore.

Going to school was not fun anymore for Marry. No body talked to her but Joe. He's like a bodyguard to her. Now she couldn't avoid. Joe seemed nice.
___to be continued___

Thursday, May 5, 2011

Jumpa Pertama Tajuli



“Eh cakep tuh, sayang udeh ade yang punye ye.” logat betawi milik Tajuli begitu kental walau ia bukan asli betawi.
Tajuli dengan usia menjelang kepala 4 memang sedang mencari kekasih hati untuk dijadikan istri kelak. Bosan rasanya pacaran terus dan gagal terus. Tetapi sejauh ini memang belum beruntung.

“Usaha yang bener dong bang, jangan cuma dilirik doang.” Romlah menimpali temannya sambil menyeruput kopi hitam mak Udin.
Warung mak Udin memang terkenal dengan kopi hitam yang nikmat dan menjadi tempat berkumpulnya pemuda Kampung Keja melepas lelah setelah seharian bekerja.
Sambil tersenyum kecut, Tajuli melengos pergi meninggalkan warung menuju Surau, Musola kecil yang menjadi tempat curhatnya sejak beberapa bulan terakhir ini.
“Ya Tuhan, sampai kapan aku harus sendiri seperti ini.” keluhnya disetiap akhir doa.
Tetapi Tajuli masih berada didalam jalur, tidak seperti teman-teman kampungnya yang setiap akhir pekan mencari mangsa pekerja buruh disebelah gedung bertingkat dekat kampungnya. Ah dunia memang sudah sangat gila, pikir Tajuli setiap dia menolak ajakan mereka.

“Bang uli!” suara nyaring Kiki menghentikan langkah Tajuli yang baru selesai sholat subuh.
“Bang, kemari deh. Kiki punya berita bagus.” senyumnya mengembang serasa baru mendapat uang saku lebih dari Abah.
“Ade ape Ki, Pagi-pagi tumben banget loe nyil.” Tajuli mengajaknya duduk dipinggir sawah dekat surau.
“Ada yang mau kenalan.” Kiki semakin melebarkan senyumnya. Gigi setengah hitamnya karena terlalu banyak makan gula-gula mengintip diantara sela-sela gigi yang sebagian masih teratur letaknya.
“Siape ki? Cakep kaga? Yang bener loe ah kalo ngomong.” Tajuli setengah menanggapi Kiki, anak Abah Anom yang paling kecil yang sering minta duit tambahan darinya setiap akhir pekan.

Minggu pagi kali ini tidak seperti hari minggu biasanya untuk Tajuli. Setelah subuh dia langsung ke Pasar Kaget, membeli sesuatu yang bisa dia bawa sebagai buah tangan untuk Rojanah. Gadis kampung sebelah utara, tidak begitu jauh dari surau di ujung kampung. Kiki telah berhasil membuat Tajuli percaya untuk berkenalan denga Rojanah. Poto hasil curian Kiki dari tangan mungilnya ketika Rojanah menemani emaknya berbelanja.
Tajuli memandangi poto Rojanah tanpa berkedip. Kulit kuning langsat dan mata sipit dengan hidung kecil membuat Rojanah semakin manis dimata Tajuli. Yah, siapa yang tidak akan jatuh hati.

 
Waktu menunjukan pukul 5 sore. Matahari sudah mulai menggeliat untuk segera menutup cahayanya. Tajuli memantapkan langkahnya untuk bertemu pujaan hati. Degup kencang jantungnya begitu terdengar sangat kencang begitu dia melihat Rojanah berdiri didepannya.
“Mari masuk bang.” begitu Rojanah menyapanya. Tajuli hanya menganggukan kepalanya. Nampaknya lidahnya tercekat. Ruang tamu sederhana milik Pak Sulaiman begitu nyaman membuat Tajuli sedikit lebih santai.
“Bapak ada dibelakang, sebentar lagi kesini. Mau minum apa sementara menunggu bapak?” Rojanah menawarkan minuman dengan sopannya.
“Eh, air putih saja.” Jawab Tajuli dengan gugup.
“Oh, sebentar ya.” Rojanah kembali kedalam. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Tajuli. Angin sepoy-sepoy yang masuk ke ruang tamu seakan tidak berpengaruh kali ini. Semua angan-angan serasa menggelayuti pikirannya. Lamunan yang penuh dengan kesenangan. Berandai-andai. Aah..
“Assalamu'alaikum.” Salam Pak Sulaiman membuyarkan lamunannya
“Wa'alaikum salam.” Tajuli segera berdiri menjawab salam dan menjabat tangan seorang bapak tua yang cukup arif kelihatannya.


“Silahkan duduk nak, jauh-jauh masa hanya dikasih air putih de.” Pak Sulaiman menegur Rojanah yang hanya membawa nampan dengan air putih.
“Tidak usah repot-repot Pak, ini sudah cukup.” Tajuli membela Rojanah yang tersenyum malu kembali kedalam dapur.
Setelah cukup berkenalan dengan orangtua Rojanah, Tajuli mendapat ijin untuk keluar bersama Rojanah dengan ditemani Kiki yang dari awal ternyata ada di dapur. Dengan hati riang, dia berjalan diantara Rojanah dan Tajuli.

Jumpa pertama dalam setiap pertemuan selalu memberi kesan tersendiri. Tajuli mempunyai kesan yang dia simpan dalam doa. Semoga pertemuan selanjutnya membawanya kedalam kebahagiaan dan tidak sendiri lagi


Wednesday, May 4, 2011

90 Hari di negeri Paman Sam


Perpisahan sekaligus syukuran atas pernikahan Jihan dan John cukup memuaskan walau tidak semua undangan bisa hadir, tetapi dengan kehadiran keluarga besar Jihan yang sudah cukup lama tidak berkumpul membuat senyum ayah Jihan, Darja menghiasi wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Anak bungsunya sudah melewati satu tahap besar dalam kehidupan dan tugasnya sebagai ayah bisa dikatakan selesai. Sebentar, kenapa harus ada perpisahan? Oh ya, John berasal dari negara Paman Sam, Amerika. Dengan kecanggihan internet, dua sejoli dari negara yang berbeda dapat bertemu dan menikah. Dengan proses yang serba panjang dah rumit, akhirnya dengan ijin Yang Maha Kuasa, Jihan dan John menyegerakan pernikahan dan terbang ke negara Paman Sam.
“Semoga rukun damai aman sentosa disana ya nak” bgitu pesan Pak Darja kepada anak bungsunya.
______________________________
Pesawat yang mereka tumpangi sangat nyaman. Perjalanan panjang diatas pesawat tidak terlalu Jihan rasakan, tergantikan dengan belaian lembut dan kasih John yang selalu menghiburnya.
Atlanta adalah persinggahan terakhir, dilanjutkan dengan kendaraan pribadi John yang sengaja dia parkir di bandara. Cuaca di Atlanta sangat menggigit kulit asia Jihan saat itu. Musim dingin memang menyambut kedatangannya di negeri Paman Sam. Setelah beristirahat satu malam, mereka melanjutkan perjalanan ke Florida. Kurang lebih 5jam dengan kecepatan 60, truk merah kesayangan John melaju tanpa ada hambatan. Indah sekali, walau salju belum turun tetapi dinginnya sudah merayap ketubuh Jihan sampai ketulang.
“Cold, honey?” John mencoba membuka percakapan hari itu. “This is not really cold tho.”
“Yeah, for you perhaps. But for Asian with slim body like me, it might kill me.” Jihan menjawab sambil melipat tangan mungilnya kedalam jaket. Kecupan mendarat di kening Jihan. Ah pengantin baru memang indah rasanya. Honey moon's trip segera dimulai.
______________________________
Cuaca di Florida sangat berbeda dengan Atlanta. Sedikit lebih hangat. Sehari setelah melepas penat, Jihan memutuskan memilih Disney World sebagai perjalanan awalnya di Amerika. 4 malam 5 hari rasanya tidak cukup untuk bersenang-senang, masih banyak atraksi permainan yang tidak mereka kunjungi. Kehidupan sebagai istri sudah menantinya.

Jet-lag sepertinya tidak mengusik kebahagiaan Jihan. Adaptasi dengan suasana baru belum begitu ia rasakan. John keliatannya juga tidak terlalu sulit diurus. Makanan barat tidak harus menjadi menu utama dikeluarga baru itu.
“Wow baby, you are even more Asian. I can't even stand having lots of chili pepper.” begitu Jihan memuji pasangannya yang sangat menyukai sambel.
“I've been around the world hon, I know good food.” John memang cukup lama bekerja di Angkatan Laut Amerika dan sering bertugas di Asia sehingga lidahnya bisa menerima makanan asing yang memang lebih kaya rasa dibandingkan dengan makanan barat. 
_____________________________
Tidak terasa satu bulan berlalu. Perjalanan masih sangat panjang untuk mereka dan kebijakan pihak pemerintah Amerika dalam membatasi jangka waktu ijin tinggal tunangan untuk menikah sangat cepat. Sedangkan untuk membawa topik pernikahan kembali, Jihan sangat hati-hati, mengingat begitu sulitnya meyakinkan John untuk datang menjemputnya saat itu. Ah John memang lelaki spesial, dengan latar belakang yang memang tidak mulus dalam hidupnya membuat kepribadiannya berbeda.

Pernikahan di Amerika akhirnya terlaksana dengan sangat sederhana, hanya berbeda sehari dengan ulang tahun Jihan. Ulang tahun kelabu Jihan tergantikan dengan senyum manis dan kecupan dibibir setelah sumpah di bilik sudut kantor kehakiman Amerika dibacakan dan kalimat “I Do” meluncur dengan lancarnya.
______________________________
Memasuki bulan kedua di Amerika setelah dokumen ijin tinggal selesai diurus adalah mencari pekerjaan atau menambah teman. Istilah culture shock sepertinya memang mendera Jihan walau bahasa Inggris tidak menjadi hambatan untuknya. Terlebih lagi diperumahan tempat suaminya memang tidak ramai seperti di kota besar. Rasa tidak percaya diri, yang sangat mendominasi dirinya menimbulkan kebosanan. Mencari info di internet dengan sosial network membuahkan hasil. Satu demi satu teman-teman seperjuangan di Florida mulai kelihatan batang hidungnya.


Ketika Pelangi Itu Pergi




Jari-jemari lentik nan mungil milik Kania segera meluncur diatas keyboard. Bunyi klak-klik karena cepatnya dia mengetik kata demi kata mengusik ketenangan tidur siang adiknya.
“Ka, nulis apa sih? Cerita? Belum tentu juga diterima di majalah.” sungut Karina dengan kesalnya.
“Kok ngomongnya gitu” sambil tersenyum dan menyeruput lemon tea ditemani pisang goreng buatan mama tersayang yang selalu mendukungnya.
Selama minggu terakhir ini memang Kania sangat getol duduk didepan laptop kesayangannya dan sanggup berjam-jam untuk menulis.

“Nia.. jangan lupa makan siang” mama mengingatkan Kania.
“Iya mah, nanti sekalian dari perpustakaan” jawab Kania sambil siap-siap meluncur dengan sepeda pink-nya.
Cuaca hari itu memang sangat mendukung untuk bersepeda dan Kania dengan semangatnya mengayuh kaki mungilnya untuk segera meminjam buku-buku yang sudah dia buat list-nya. Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritnya. Kania dengan kacamata minus tebalnya memandangi rak buku yang tingginya melebihi dirinya.
“Hai, boleh saya bantu mencari buku yang adik butuhkan?” tiba-tiba sosok tubuh tinggi atletis milik Andika, yang sangat digandrungi teman-teman di sekolah menyapanya.
“Oh, terimakasih, sudah ketemu kok.” jawab Kania sambil bergegas mencari tempat duduk yang aman.
Hatinya masih berdegup kencang walau dia berusaha untuk tetap santai. Ah seandainya aku boleh pacaran, mungkin dengan senang hati membuka diriku dengan cowok seganteng Andika. Sambil menyungging senyum, Kania segera memulai petualangannya dengan setumpuk buku-buku dihadapannya. 

______________________________

“Ka, sudah berapa orang yang mulai mengumpulkan naskah cerita untuk perlombaan bulan depan?” Mia dengan tubuh gempalnya tergopoh-gopoh mencoba mengikuti gerak langkah kakak kelasnya, Andika.
“Baru ada 2 orang, dari kelas 1 dan 2” jawab Andika dengan tegas, seakan-akan tidak ingin diganggu dan segera berlalu.
“Huh, sok sibuk banget sih” Mia dengan tampang juteknya kembali kedalam kelas.
“Siapa suruh mau jadi sekretaris Om Andika” Ujang teman sekelasnya meledeknya.
Tangan Mia sudah hampir mendarat dikepala botak Ujang tapi telak mengenai Anisa yang duduk disebelahnya.
“Oops sori Nis” Mia segera mengejar Ujang yang melarikan diri keluar kelas dan hampir bertabrakan dengan Kania.
“Ehh apa-apaan sih” Kania dengan agak kesal merapihkan buku-buku yang hampir jatuh dari pegangannya.
“Awas lo Jang! Balik gue jitak beneran” dengan nafas tersengal-sengal, Mia mengikuti Kania kedalam kelas.
“Mi, ngapain juga lo ngejar Ujang, anak kaya gitu ga usah diladenin deh” Kania tersenyum mengingat kebengalan Ujang terhadap teman-teman sekelasnya.
“Ni, gue tadi ngobrol sebentar sama Andika, baru ada dua orang yang mengumpulkan naskah cerita untuk perlombaan bulan depan, target belum sampai nih” Mia mengatur nafasnya untuk berbicara lebih panjang lagi tetapi bunyi bel khas Pak Manto, penjaga sekolah menghentikan niatnya.
“Ok, nanti sepulang sekolah kita lanjutkan lagi ya” Kania segera berkonsentrasi dengan pelajaran Fisika yang sangat tidak disukainya.

______________________________

“Argghh, kenapa laptop kakak jadi eror begini. Karin! Kamu pasti main game dari facebook ya?” Kania tiba-tiba melabrak adiknya yang sedang menonton kartun doraemon.
“Ga main game kok ka, cuma ikutan kuiz-kuiz aja, abis iseng sih” Karin menjawab dengan santai sambil meneruskan Doraemon yang sedang memarahi Nobita.
“Huh, kamu memang sama aja seperti Nobita” dengan kesal, Kania segera berlalu mencari Papa di ruang kerja. Papa nya memang bisa diandalkan untuk urusan seputar komputer. Hampir setengah jam laptop Kania harus dikarantina terlebih dahulu.
“rin, kamu apa gak bosen yah sama facebook? Hati-hati deh sekarang kalau kamu buka aplikasi dari situs itu. Untung Papa masih mau bantu walau sibuk.” Kania mencoba menasihati adiknya yang sudah lima watt memeluk bantal guling.
“Iya iya, besok ke Warnet Pasar baru aja, tapi bagi duit dong, Ka” Jawab Karina.
“Uang saku adik kan banyak, kenapa gak dipake buat nge-warnet” Kania mencoba meledek adiknya.
“Ah pelit!” Karina melempar bantal Winnie The Pooh mungilnya kearah Kania.
“Hahaha Got it!” jadi ini buat kakak ya sambil menangkap Pooh.
____________________________

Cuaca Jakarta semakin hari semakin tidak bisa diduga-duga. Ketika panasnya bisa melelehkan es hanya beberapa menit seketika berubah menjadi mendung dan hujan. Cuaca hari ini sangat tidak mendukung Kania untuk bersepeda, tetapi hari ini dia harus menyelesaikan naskah cerita. Dia ingin sekali mencoba mengikuti perlombaan jurnalistik di sekolahnya. Dia ingin menjadi penulis terkenal, membuat buku yang dibaca berjuta-juta orang di dunia. Yah itulah hayalannya.
“Hujan sudah tidak terlalu besar sekarang, hanya rintik-rintik. Aku harus mengejar satu halaman lagi untuk menyelesaikan cerita ini” pikir Kania sambil menyiapkan peralatan tempurnya untuk pergi ke perpustakaan.
“Mah, Nia pergi sebentar ke perpustakaan ya” sambil mencium kening sang mama, Kania berpamitan.
“Hati-hati Nia, walaupun hanya gerimis,tetap dipake jas hujannya ya” mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kegigihan anaknya untuk bersepeda dibawah rintik hujan hari itu. Jarak perpustakaan dari rumah memang tidak begitu jauh sehingga sang mama mengijinkan Kania untuk pergi.
______________________________

Perpustakaan tampaknya sepi, mungkin karena hujan. Ah lebih nyaman kalau begitu, pikir Kania. Tidak terasa satu lembar halaman sudah dia dapat. Cerita akhirnya pun sudah rangkup. Untuk lebih cepat dan aman akan ku email saja naskah ini. Dengan sekali click, naskah cerita Kania sudah meluncur ke email Andika.
Kania bergegas meninggalkan perpustakaan. Hujan sudah berhenti. Hanya tinggal rintik air yang jatuh dari pohon-pohon yang basah. Halaman perpustakaan yang rindang memang menjadi daya tarik orang untuk datang kesini. Salah satunya adalah Kania. Tetapi Kania tidak menyadari motor dari tikungan sebelah gedung perpustakaan melaju sangat kencang. Sambil mengayuh pelan sepedanya, dia memandangi daun-daun basah yang tidak begitu jauh diatas kepalanya, Indah dan segar sekali, pikirnya. Tiba-tiba “Braakkk!Sepeda Kania terpental bersama tubuhnya yg mungil dan jatuh diatas batu cadas dekat pohon beringin. Darah mengalir cukup deras dari kepala Kania. Kania tidak sadarkan diri.

Rumah sakit Kardiman seperti biasa ramai. Kebahagiaan menyapa kamar mawar. Tetapi tidak ada keceriaan ditengah bangsal kamar 205. Semua terdiam. Tidak ada yang menyangka kepergian Kania hari itu adalah untuk selamanya. Kania hanya meninggalkan naskah cerita yang dia beri judul “Ketika Pelangi itu Pergi”


Tuesday, May 3, 2011

The Tidy Drawer



One Sunday morning Dede's Mom came upstairs to see Dede in her bedroom. There was so much mess on the floor she could only poke her head around the door. Dede sat in the middle of it all reading a book.

"You need to have a clear up in here." Mom said.
"Why?" Dede asked.
"Why?" Mom repeated. "Because things get broken or lost when they're all willy-nilly like this. And it will be difficult if you want to use them again. Come on, have a tidy up now."
"But I'm very busy," Dede argued, "and it's boring on my own. Can't you help me?"
"No I can't, I'm busy too. But I'll give you extra pocket money if you do a good job." Mom said.

When Mom came back later all the toys and clothes and books had disappeared.
"I'm impressed," said Mom. "But I'll inspect it later."
"It was easy," said Dede. "Can I have my extra pocket money now?"
"All right. Get it out of my change purse. It's in the kitchen tidy drawer."

In the kitchen Dede went over to the dresser and pulled open the tidy drawer. She hunted for the purse.
"Any luck?" Mom asked.
Dede shook his head.
"It must be lurking at the bottom," Mom said. "Let's have a proper look."
She pulled the drawer out and carried it over to the table. Dede kneeled up on a chair to look inside. There were lots of boring things like staplers and string but there were lots of interesting things as well. 
"What's this?" Dede asked, holding up a plastic bottle full of red liquid. Mom laughed.
"Fake blood, from a Halloween party years ago. Your Dad and I took you to that, dressed up as a baby vampire. You were really scary."
"I remember this," Dede said as she pulled out a plastic bag. "This is from my pirate party." Inside there was a black, false moustache and some big gold earrings.
She stuck false moustache on Mom's top lip then found a paint brush in the drawer and painted a red scar down her cheek using the fake blood. Mom clipped on the pirate earrings.
"It's fun doing this together," She said.
"Maybe. But we still haven't found the change purse." They both looked at the big heap of things spread over the kitchen table.
"Well, you know things will get lost, or broken, when they're all willy nilly," Dede said.

Mom looked at her suspiciously. "Let's go and inspect your bedroom shall we." Mom said. Dede followed her mom upstairs and into her bedroom. Mom kneeled down and lifted the bed cover. Underneath were heaps of Dede’s toys, books, tapes, clothes and shoes, empty plastic cups and wrappers and a half-eaten sandwich on a plate. She was blushing and said, "It's my ”tidy drawer” mom. Like mother like daughter,” she grinned. She wrapped her arms around her Mom and gave her a kiss. "Let's sort this one out together now.
Since then, the room and the kitchen are always tidy because of the “tidy drawer” they had.
Glossary;
Poke=Menjulurkan; willy-nilly=kacau balau; hunted=mencari; lurking=tersembunyi proper=sebaik-baiknya,teliti; kneeled=berlutut; string=benang; Fake=palsu; scar=goresan; heap=tumpukan