Wednesday, May 18, 2011

Emaaak, Ijah Pulaaang!


Sudah hampir 3 tahun Ijah tinggal di Negara Paman Sam tetapi untuk menetap selamanya dan menjadi warga negara asing masih menjadi bahan pemikirannya. Teringat akan makanan di kampungnya yang murah meriah dan tentu saja nikmat, teman-teman backpackernya, barang-barang BM dan masih banyak hal lagi, semakin membuat Ijah ragu untuk memantapkan niatnya menjadi warga negara asing. 

"Huff, masak apa ya hari ini untuk abang Juned." 
Juned, yah begitulah dia memberikan nama julukan untuk suaminya yang blasteran Amerika Belanda yang tidak menyukai makanan pedas ala kampung Ijah. Juned yang begitu mudahnya jatuh hati dengan perempuan kampung cukup menggemparkan orang sekampung Ijah, diikuti dengan dilangsungkannya  pernikahan mereka. Ya, 4tahun yang lalu merupakan hal yang tidak bisa dilupakan oleh siapapun, bukan kali pertama itu saja sebenarnya, hanya saja inilah yg paling membuat orang tua dan teman-temannya kaget bukan kepalang. Ijah dilamar Kumpeni, begitu kata mereka. 

"Repot dah kalau harus ada dua menu begini di rumah." keluhnya. 
Kehidupan di Negara Paman Sam sangat berbeda ia rasakan, khususnya  untuk tahun pertama. Mulai dari makanan, pakaian, budaya, bahasa, tetapi dengan otak yang lumayan, Ijah berhasil melaluinya. Pertemanan situs ataupun tetangga dan teman-teman suaminya membuat Ijah merasa betah. Anggapan miring terhadap dirinya dia tepis jauh-jauh dengan menunjukan siapa dirinya. 

Tetapi entah kenapa, keinginan untuk pulang kampung sangat mendera hatinya saat ini. Semua barang  oleh-oleh sudah ia cicil dibungkus sangat apik untuk orang-orang sekampungnya.

"You will go home town someday but not in the short coming okay." Juned sangat sayang terhadap Ijah, wanita unik yang ia nikahi 4 tahun lalu yang selalu membuat dirinya bahagia.
"I know, I just hope I could go this year, Miss my home town." Ijah menghela napasnya dan kembali ke dapur melanjutkan masakannya. Kali ini menu spesial yang ia masak adalah untuk dirinya, yaitu sambel terasi ikan peda yang membuat Juned langsung ngeloyor keluar dan bermain dengan Udin, kucing kesayangan mereka yang baru saja mereka pelihara belakangan ini.
Ijah cukup beruntung menikah dengan Juned, walau tidak tinggal dirumah bertingkat seperti layaknya orang kaya dikampungnya, ia tidak mendapat kesulitan dari suaminya yang berbeda kultur dan budaya. Sholat lima waktu tidak pernah ia lewatkan begitu juga dengan suaminya. 
_________________________________

Hari ini udara cukup bersahabat untuk Ijah. Musim dingin sudah berlalu, yang artinya pakaian tebal-tebalnya sudah bisa ia singkirkan untuk sementara, sepatu bootnya yang selutut sudah berganti dengan sendal jepit "made in" kampungnya yang selalu ia banggakan didepan Abang Juned. 
Sinar matahari menghangatkan tubuhnya yang mulai tambun karena terlalu banyak makan ikan asin yang sangat mudah ia dapatkan di toko asia, tidak begitu jauh dari rumahnya. 
 "Ahh kapan kurusnya kalau tiap hari makan ikan asin dengan nasi 3piring." keluhnya sambil mengunyah ikan dan sambel terasi yang ia cocol dengan daun singkong. Satu lagi keberuntungan Ijah,  yaitu semua kebutuhan perutnya ternyata banyak tersedia di negara Paman Sam, hanya dengan keahlian masak seadanya bisa membuat ia tidak kehilangan selera makannya seperti di kampungnya. Tetapi seiring dengan waktu dan kemauannya, keahlian memasaknya semakin ia asah dan tidak mengecewakan suaminya seperti awal-awal pernikahannya waktu dulu. Keasinan ataupun hambar sudah tidak terdengar lagi disela-sela makan malam mereka. 
_____________________________

Ijah dan Juned hari ini akan menyempatkan bersilaturahmi ke kota dimana orang tua Juned tinggal. Mereka sangat menyukai Ijah yang ramah dan apa adanya. Keluarga Juned sangat menghormati Ijah yang menjunjung nilai agama, sehingga makanan yang disediakan tetap halal. 
Kegiatan hari ini adalah water sport. Olahraga air yang bagi orang kampung Ijah mungkin hanya mancing dan berenang dilaut dekat pelabuhan dimana ia tinggal. Alat pancingnya pun jauh berbeda, apalagi airnya. Sedih memang meihat kampungnya yang sebenarnya indah tetapi banyak yang tidak bisa menjaganya. 
"Let's prepare our Kayak, hon." Juned memandangi wajah istrinya yang mulai kelihatan ragu untuk mencoba olah raga itu.
"Don't worry, You'll like it." Juned meyakinkan istrinya.
"Yea, Ijah, We'll stay behind you." Ibu mertua nya yang tidak muda lagi menyemangati dirinya.
"Urggh.. yea sure go ahead, I'll watch you guys first." Ijah tersenyum kecut. 
Kamera ditangannya sudah mulai beraksi mengambil gambar-gambar yang cukup menarik untuk diperlihatkan keteman-teman dan saudaranya.
Angin sepoi-sepoi dan udara hangat membuat mereka lupa akan waktu. Setelah akhirnya Ijah memberanikan diri untuk mencoba Kayak beberapa jam. Mereka kembali ke rumah. 
"See, told you it's fun." Juned mengecup pipi Ijah untuk keberaniannya mencoba Kayak. 
"Yea but I almost fell to the water." Ijah tersenyum bangga. 
"Next time We'll try something different." Ibu Juned, Maria, menimpali percakapan mereka.
"What Different???!!!" Ijah mulai mengernyitkan dahinya tanda penasaran dan ketakutannya. 
"Na-ah, We'll tell you after you come back from your home town." Maria membuat Ijah terkejut.
"What Home town? What do you mean?" Ijah semakin bertanya-tanya.
"Surprise!!! We bought round trip ticket for you dear." Maria menyodorkan tiket pesawat untuk Ijah.
"Oh.. Mom! Hon?" Ijah begitu gembira, air mata nya tidak bisa ia tahan. Ia menangis dipelukan Maria dan Juned. 
"Thank you so much. I really don't know what to say." Ijah masih menangis  sambil mencoba tersenyum dan mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga. 
"We want you to be happy." William, Bapak mertua Ijah mengomentari dari dapur. 
"Now let's cook for dinner, I am hungry. Show me your arts in cooking." William tersenyum.
"Sure Dad, I'll cook my best for you." Ijah tersenyum lebar. Bahagia rasanya punya keluarga seperti keluarga Juned, Ia tidak akan mengecawakan mereka. 
______________________________

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. 1 tas punggung, 2 Tas koper rasanya tidak cukup untuk membawa pesanan orang sekampung. Dengan gembira, Ijah mendorong tas kopernya untuk diletakkan dibagasi mobil. 
"Ready Hon." Ijah teriak memanggil suaminya yang masih sibuk dengan Udin, Kucing mereka.
"Be good Udin while Mommy's gone." Ijah mengelus kucing kesayanganya.
"Okay, Let's go." Juned mengunci pagar rumah dan siap-siap mengantar istrinya ke bandara. Tiga bulan waktu yang lumayan lama untuk mereka berpisah sementara. Ijah cukup khawatir meninggalkan suaminya, tetapi karena Juned cukup sibuk dan tidak keberatan, Ijah akhirnya lega meninggalkan negeri Paman Sam untuk sementara waktu.

Perjalanan ke kampungnya cukup memakan waktu lama dipesawat. Untungnya tiket hadiah kejutan adalah tiket kelas 1 sehingga Ijah cukup merasa nyaman. Makanan, hiburan dan teman seperjalanan yang ia kenal lumayan cukup baik sehingga ia tidak bosan. Transitnya pun tidak memakan waktu lama. Tidak terasa beberapa jam lagi, pesawat akan mendarat di negara tempat ia lahir. Pikirannya mulai dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah, lucu, dan juga sedih akan akan kampung halamannya.
"Ahh seandainya kampungku seperti negara Paman Sam." lamunnya, sambil mengisi data barang-barang yang ada di kopernya, Ijah menatap Jendela pesawat. Aku akan merindukanmu tetapi aku akan secepatnya kembali. 
Pesawat sudah mendarat beberapa menit yang lalu, tetapi urusan bagasi lumayan memakan waktu yang lama. Antrian yang cukup panjang membuat Ijah bosan. Tiba-tiba "Hey kamu harusnya ada dijalur 2, harus diperiksa dahulu, lapor." seorang petugas menghampirinya sambil berkata-kata cukup kasar.
"Maksud bapak apa?" Ijah terkejut mendengar ia ditegur seperti itu. 
"Iya untuk TKI/TKW harusnya dijalur 2." Petugas itu menegaskan.
"Maaf Pak, saya bukan TKW, saya dari Amerika." Ijah mulai ketus menjawab petugas bandara.
"Oh, Mana bukti anda." Petugas itu masih belum percaya. Dengan penampilan kusut Ijah karena terlampu letih selama perjalanan menambah kesan penampilan TKW negara nya sendiri yang memang sangat banyak dari kampungnya. Dengan kesal tetapi tetap bersabar, Ijah mengeluarkan identitas dirinya. Setelah cukup bersitegang dengan petugas, akhirnya Ijah melewati antrian panjang bea cukai. Dengan langkah kesal, Ijah keluar dari Bandara dengan troley bandara membawa dua koper besarnya. Petugas bandara dibagian depan rasanya masih akan membuat masalah dengannya. Kedua kalinya ia mengeluarkan identitas dari negara Paman Sam. Tetapi Ijah tetap sabar dan tidak mau ribut didepan umum. 
Ahh beginikah perlakuan terhadap bangsamu sendiri, ingin rasanya ia kembali ke negara Paman Sam. Tetapi mengingat pelukan hangat emaknya, makanan yang serba ada tersedia, berpetualang dipelosok sudut kampungnya, membuat senyumnya mengembang kembali dan berteriak "Emaaakkk, Ijaah pulaaang."






7 comments:

  1. woww...kerennn Fit!! berbakat jg lo! 2 jempollllllll

    ReplyDelete
  2. btw, itu komen gw wkwkwwkw.. Theresia Joseph

    ReplyDelete
  3. Cuplis.. Lebay bangeeeeeeeeeeeettt!! Wakakakakak..
    Perasaan brian mah ngga seromantis itu, sumpah lebay banget. Ahahahah..
    Dan mestinya gw disuruh pindah line itu pas mau balik ke amrik, bukan pas di bandara mau ke Indo. Tp sutralaya.. Wakakakak.. Masih ngakak gw, Mba. Aya aya wae..

    ReplyDelete
  4. hahaha namanya jg ngarang, kan bukan cerita loe asli boooo

    ReplyDelete
  5. haaaaaaaahaahaha lumayan ngocok perut di pagi hari by harira

    ReplyDelete
  6. semoga ga bikin sampe sakit perut deh yeee :-D

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.